Siapa sangka, kesalahan seorang Albert Einstein justru menjadi bahan bakar utama yang mendorong roda ilmu pengetahuan melesat ke depan.
Albert Einstein telah merevolusi cara manusia memahami semesta lewat teori relativitas dan berbagai temuan fundamentalnya di bidang fisika kuantum. Namun, lembaran sejarah sains membuktikan bahwa otak paling cemerlang di dunia sekalipun tidak luput dari kekeliruan fatal saat melakukan riset.
Banyak hipotesis pentingnya yang sempat goyah akibat kesalahan matematis maupun bias filosofis pribadinya. Menariknya, langkah keliru itu justru menjadi pemantik bagi generasi fisikawan berikutnya untuk mendebat, menguji, dan mengembangkan ilmu kosmologi.
Melansir laporan Live Science, berikut adalah tiga blunder terbesar yang pernah dilakukan oleh sang fisikawan legendaris.
1. Sempat Menolak Keberadaan Gelombang Gravitasi
Pada tahun 1916, Albert Einstein melontarkan prediksi yang mengguncang dunia ilmiah. Ia menyebutkan bahwa pergerakan objek dengan massa masif akan menciptakan riak-riak gelombang yang merambat dalam struktur ruang dan waktu.
Fenomena inilah yang dinamakan gelombang gravitasi.
Namun, masalah pelik muncul ketika Einstein bersama rekannya, Nathan Rosen, mencoba menjabarkan gelombang ini ke dalam rumus matematika.
Saat mengurai persamaan tersebut, mereka terus-menerus mentok pada nilai tak terbatas (titik singularitas). Bagi Einstein, sebuah realitas fisik tidak boleh diwakili oleh angka tak terhingga.
Karena percaya matematika harus mencerminkan kenyataan yang logis, Einstein berbalik arah. Ia menulis makalah ilmiah baru yang isinya justru menegaskan bahwa gelombang gravitasi itu tidak ada.
Einstein mengirimkan draf riset penolakannya ini ke jurnal bergengsi Physical Review. Beruntung, seorang penelaah anonim—yang belakangan diketahui sebagai pakar matematika Howard Percy Robertson—menemukan kejanggalan.
Kesalahan Einstein ternyata sepele: ia salah memilih sistem koordinat.
Menerima penolakan dari redaksi, Einstein sempat meradang karena ia tidak terbiasa dikritik. Ia langsung menarik kembali makalahnya.
Namun, Robertson tidak menyerah dan mendekati asisten Einstein untuk menjabarkan letak kesalahan hitung tersebut.
Setelah mendapat penjelasan detail dari sang asisten, Einstein akhirnya sadar ia telah teledor. Secara diam-diam, ia memperbaiki sistem koordinat dalam kalkulasinya dan menerbitkan ulang karya tersebut dengan kesimpulan yang berbalik total: gelombang gravitasi nyata adanya.
2. Menentang Keras Adanya Lubang Hitam (Black Hole)
Einstein kembali terjebak dalam pola pikir yang sama saat menguji konsep lubang hitam. Kala itu, ketika fisikawan lain menerapkan teori relativitas umum milik Einstein untuk menghitung runtuhnya bintang-bintang raksasa, mereka menemukan sebuah batas misterius.
Batas mutlak yang tidak memungkinkan apa pun untuk kembali itu disebut horizon peristiwa (event horizon).
Ketika Einstein mencoba menghitung sendiri wilayah ruang angkasa yang aneh ini, persamaannya lagi-lagi menemui jalan buntu dengan memunculkan angka tak terhingga. Alih-alih menyadari bahwa hal itu adalah keterbatasan matematis pada zamannya, ia malah bersikeras bahwa lubang hitam adalah sesuatu yang absurd dan tidak mungkin ada di alam semesta.
Skeptisisme ini terus dibawa Einstein hingga akhir hayatnya. Ia teguh menolak keberadaan lubang hitam meskipun bukti-bukti teoretis di sekitarnya semakin kuat.
Menurut Profesor John D. Norton dari University of Pittsburgh, sikap keras kepala Einstein ini sebenarnya berakar dari pandangan filosofisnya. Sang genius selalu percaya bahwa alam semesta bekerja secara teratur dan harmonis.
Oleh karena itu, keberadaan monster kosmik seperti lubang hitam—tempat di mana semua hukum fisika runtuh total—adalah sesuatu yang tidak bisa diterima oleh logikanya.
Namun sejarah berkata lain. Melalui kecanggihan teleskop modern saat ini, para ilmuwan akhirnya berhasil menangkap foto nyata dari lubang hitam. Foto itu menjadi bukti sahih bahwa seorang genius pun bisa salah akibat prasangkanya sendiri.
3. Berperang Melawan Mekanika Kuantum
Jika dua kesalahan sebelumnya berkutat pada rumitnya hitungan matematika, maka perseteruan Einstein dengan mekanika kuantum murni merupakan perang prinsip. Ironisnya, meski Einstein adalah salah satu pionir yang meletakkan batu pertama teori kuantum, ia justru menentang keras ketika teori ini berkembang ke arah yang serba acak dan tidak pasti.
Penolakan kerasnya tertuju pada fenomena keterikatan kuantum (Quantum Entanglement). Ini adalah kondisi aneh di mana dua partikel yang saling terikat dapat saling memengaruhi secara instan, tidak peduli seberapa jauh jarak yang memisahkan keduanya.
Bagi Einstein, fenomena ini tidak masuk akal karena menabrak teori relativitasnya sendiri yang menyatakan bahwa tidak ada informasi atau sinyal yang dapat bergerak lebih cepat daripada kecepatan cahaya.
“Saya tidak bisa benar-benar mempercayai teori ini karena ia tidak sejalan dengan prinsip bahwa fisika harus merepresentasikan sebuah realitas,” tulis Einstein dalam sepucuk surat untuk fisikawan Max Born pada tahun 1947.
Saking kesalnya, Einstein menjuluki fenomena ini dengan istilah bernada sindiran: “aksi gaib jarak jauh” (spooky action at a distance). Ia keukeuh menganggap mekanika kuantum masih mentah, penuh kekurangan, dan yakin ada hukum alam tersembunyi yang belum digali manusia.
Namun, waktu membuktikan bahwa Einstein keliru. Pada tahun 1964, fisikawan John Bell membawa bukti kuat yang mengonfirmasi bahwa keterikatan kuantum benar-benar terjadi.
Kini, deretan teknologi masa depan mulai dari komputer kuantum hingga sistem keamanan siber super canggih justru beroperasi menggunakan fenomena “gaib” yang dulu mati-matian ditolak oleh Einstein.