Seorang perempuan asal China yang sempat ditelantarkan saat masih bayi akhirnya dipertemukan kembali dengan orang tua kandungnya setelah 28 tahun terpisah, dalam sebuah kisah yang menyentuh sekaligus memicu perdebatan di ruang publik.
Perempuan bernama Hong Yangli itu diketahui ditinggalkan di sebuah toilet oleh kakeknya sendiri hanya dua hari setelah dilahirkan, sebelum kemudian diadopsi oleh pasangan asal Belanda dan dibesarkan hingga dewasa.
Pertemuan emosional itu terjadi pada 14 Maret 2026 di Nanchang, Provinsi Jiangxi, tempat kelahirannya. Kedua orang tua kandung Hong menyambut kedatangannya dengan jamuan makan dan petasan, tradisi yang kerap digunakan untuk menandai momen bahagia.
Sang ibu, Yang Xiaoying, tak kuasa menahan haru dan menangis saat akhirnya bisa kembali memeluk anak yang telah lama hilang. “Anakku sudah kembali,” ucapnya dengan suara bergetar.
Kisah pilu ini bermula pada hari kedua setelah Hong lahir. Dalam kondisi masih lemah pascamelahirkan dan tanpa kehadiran suami yang sedang pergi, Yang Xiaoying menyetujui permintaan ayah mertuanya yang menawarkan diri untuk membawa pulang bayi tersebut dan merawatnya. Namun, keputusan itu menjadi awal dari perpisahan panjang yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Alih-alih merawat, sang kakek yang memiliki pandangan lebih mengutamakan anak laki-laki justru membuang bayi tersebut di sebuah toilet di desa lain.
Sejak saat itu, Hong menghilang tanpa jejak. Yang Xiaoying mengaku sangat terpukul dan menyimpan kebencian mendalam terhadap ayah mertuanya, terutama karena pria tersebut menolak memberi tahu keberadaan anaknya. Ia bahkan memilih memutus komunikasi hingga sang kakek meninggal dunia.
Ayah Hong, Xu Lihong, juga mengakui penyesalan yang terus menghantuinya selama bertahun-tahun. Ia mengatakan bahwa dirinya terjebak dalam norma bakti kepada orang tua, sehingga tidak berani menentang tindakan ayahnya ataupun melaporkannya ke pihak berwenang. “Saya terus mencari putri bungsu kami, tetapi tidak pernah ada kabar,” katanya.
Sementara itu, nasib Hong berubah ketika seorang warga menemukan dirinya menangis di dalam toilet saat masih berusia dua hari. Ia kemudian dibawa ke panti kesejahteraan setempat.
Saat ditemukan, Hong ditinggalkan bersama uang sebesar 120 yuan, sekantong susu bubuk, dan sebuah catatan yang mencantumkan tanggal lahirnya.
Pihak panti kemudian memberinya nama Hong Yangli dan menempatkannya di keluarga asuh. Setahun berselang, ia diadopsi oleh pasangan asal Belanda dan dibawa ke Eropa.
Di sana, Hong tumbuh dalam lingkungan yang penuh kasih sayang, hingga berhasil menempuh pendidikan tinggi dan meraih gelar doktor.
Meski hidupnya berjalan baik, keinginan untuk mengetahui asal-usulnya tak pernah padam. Upaya pencarian itu menemukan titik terang pada Desember 2024, ketika Hong menyerahkan sampel DNA ke basis data anak hilang dengan bantuan relawan di China. Hasilnya, pihak kepolisian berhasil menemukan kecocokan dengan orang tua kandungnya.
Saat pertemuan berlangsung, suasana haru tak terelakkan. Meski tidak fasih berbahasa China, Hong tetap menunjukkan emosi yang mendalam. Ia beberapa kali terlihat menangis, sementara relawan membantu menerjemahkan percakapan antara dirinya dan keluarga kandungnya.
Sebagai simbol kebahagiaan, sang ayah memberikan Hong gelang emas dan liontin giok. Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada orang tua angkat Hong di Belanda.
“Kami berterima kasih kepada mereka karena telah membesarkan putri kami dengan begitu baik,” ujarnya dikutip Mashable Indonesia dari South China Morning Post.
Ia menambahkan bahwa dirinya akan menghormati keputusan Hong terkait masa depannya, termasuk jika ia memilih menetap di China.
Rencana pun mulai disusun. Orang tua kandung Hong berniat mengunjungi keluarga angkatnya di Belanda pada musim panas mendatang sebagai bentuk penghargaan atas peran mereka dalam membesarkan anak tersebut.
Namun, kisah ini tidak sepenuhnya disambut dengan simpati tanpa kritik. Di media sosial, peristiwa tersebut memicu perdebatan sengit. Sebagian pengguna menilai Hong sebagai sosok yang beruntung meski mengalami awal kehidupan yang tragis.
“Hong ditinggalkan oleh kakek yang kejam, tetapi beruntung dibesarkan oleh orang tua angkat yang seperti malaikat,” tulis seorang warganet.
Di sisi lain, ada pula yang mengkritik sikap sang ayah. “Sang ayah tidak pernah melapor ke polisi, yang berarti secara tidak langsung membiarkan kejahatan itu terjadi. Ia hanya berlindung di balik alasan bakti kepada orang tua dan tidak menunjukkan cinta yang nyata kepada putrinya,” tulis pengguna lainnya.
Komentar lain menyoroti ikatan emosional antara ibu dan anak yang akhirnya kembali dipertemukan. “Hong sangat mirip dengan ibunya. Tidak ada yang merasakan kehilangan anak lebih dalam daripada seorang ibu. Semoga keluarga ini bahagia setelah dipertemukan kembali,” tulis seorang pengguna.
Kisah Hong Yangli menjadi gambaran kompleks tentang kehilangan, penyesalan, dan harapan yang akhirnya menemukan jalannya, sekaligus membuka diskusi luas tentang nilai keluarga dan tanggung jawab dalam masyarakat modern.