loading…
Gejolak pasar keuangan sepanjang Januari–Mei 2026 dinilai menunjukkan bahwa tekanan yang sedang dihadapi Indonesia jauh lebih besar daripada sekadar koreksi harga saham atau pelemahan nilai tukar rupiah. Foto/Dok
Co-Founder FINE Institute sekaligus Analis Ekonomi Politik Pasar Keuangan, Kusfiardi mengatakan, bahwa yang sedang mengalami koreksi bukan hanya harga aset, tetapi juga tingkat kepercayaan investor terhadap ketahanan struktur pasar keuangan nasional.
“Yang mengalami koreksi bukan hanya harga saham dan nilai tukar, tetapi juga persepsi investor terhadap risiko pasar Indonesia secara keseluruhan. Ini yang perlu dibaca secara lebih serius,” ujar Kusfiardi.
Baca Juga: Tekanan IHSG Belum Usai, Pekan Depan Diprediksi Ambles Menguji Area 5.899
Menurutnya, terdapat empat temuan penting dari perkembangan pasar selama Januari–Mei 2026.
Pertama, tekanan pasar tidak dapat dijelaskan hanya oleh faktor eksternal. Konflik geopolitik Timur Tengah, penguatan dolar AS, dan tingginya suku bunga global memang menjadi pemicu. Namun kedalaman koreksi yang terjadi menunjukkan adanya persoalan domestik yang lebih mendasar, yaitu struktur pasar yang masih dangkal dan ketergantungan yang tinggi terhadap arus modal asing.
Kedua, kasus rebalancing MSCI pada Mei 2026 memperlihatkan besarnya pengaruh institusi keuangan global terhadap pasar Indonesia. Keluarnya sejumlah saham besar Indonesia dari indeks MSCI memicu arus keluar dana asing dalam jumlah besar dan mempercepat tekanan terhadap pasar saham maupun nilai tukar.