Nanik Sudaryati Deyang resmi diangkat menjadi Kepala BGN yang baru menggantikan Dadan Hindayana menyusul ditetapkannya Dadan.sebagai tersangka oleh Kejaksaan Agung (Kejagung) terkait dugaan tindak pidana korupsi penyimpangan tata kelola dan pengadaan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Nanik S. Deyang yang kariernya bermula dari jurnalis senior hingga menduduki berbagai pos komisaris dan birokrasi strategis, data Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) mengonfirmasi bahwa total aset transportasi dan mesin yang dimiliki Nanik berada di angka Rp705.000.000.
Menariknya, isi garasi mantan Wakil Ketua BPN Koalisi Adil Makmur pada Pilpres 2019 ini mencerminkan kombinasi yang fungsional antara kenyamanan sedan premium Eropa, ketangguhan SUV, serta fungsionalitas mobil keluarga.
Berdasarkan laporan periodik yang diserahkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), seluruh unit kendaraan milik Nanik tercatat didapatkan dari hasil sendiri tanpa adanya status utang. Berikut adalah rincian tiga unit mobil yang menjadi penunjang mobilitasnya:
1. BMW 520i CKD A/T (Tahun 2014)
Lini kendaraan dengan taksiran nilai tertinggi dalam koleksinya adalah sebuah sedan premium asal Jerman, BMW Seri 5 varian 520i versi Completely Knocked Down (CKD) bertransmisi otomatis keluaran tahun 2014. Di dalam laporan kekayaan, sedan eksekutif yang dikenal dengan kenyamanan berkendara serta handling yang dinamis ini memiliki nilai valuasi sebesar Rp460.000.000.
2. Toyota Fortuner 2.7 Lux A/T (Tahun 2013)
Untuk kebutuhan mobilitas yang membutuhkan utilitas lebih tinggi atau melewati medan jalan yang beragam, Nanik mengandalkan SUV ladder-frame populer, Toyota Fortuner varian 2.7 Lux bertransmisi otomatis lansiran tahun 2013. Model bermesin bensin ini tercatat memiliki nilai taksiran pasar sebesar Rp180.000.000.
3. Toyota Avanza 1.300 G (Tahun 2007)
Melengkapi garasinya, terdapat satu unit kendaraan tangguh segmen Low MPV yang dikenal sebagai mobil sejuta umat, yakni Toyota Avanza tipe 1.300 G keluaran tahun 2007. Kendaraan berkapasitas tujuh penumpang ini menjadi unit dengan nilai pelaporan paling rendah, yakni senilai Rp65.000.000.
Koleksi kendaraan senilai Rp705 juta tersebut merupakan bagian dari total kekayaan bersih Nanik yang mencapai Rp6,3 miliar, di mana porsi terbesarnya ditopang oleh sektor aset tanah dan properti di kawasan Depok dan Bekasi.
Secara keseluruhan, nilai kendaraan yang dimiliki Nanik memang hanya menyumbang sebagian kecil dari total kekayaannya. Porsi terbesar justru berasal dari aset properti.
LHKPN mencatat Nanik memiliki tanah dan bangunan senilai total Rp5,402 miliar yang tersebar di wilayah Depok dan Bekasi. Beberapa aset tersebut memiliki nilai di atas Rp1 miliar, sementara lainnya berada pada kisaran ratusan juta rupiah.
Selain aset properti dan kendaraan, Nanik juga memiliki kas dan setara kas sebesar Rp196,29 juta. Tidak adanya kewajiban utang membuat seluruh nilai kekayaan yang dilaporkan tersebut menjadi kekayaan bersih.
Karier Nanik sendiri terbilang panjang dan beragam. Lahir di Madiun, Jawa Timur, pada 3 Januari 1968, ia memulai perjalanan profesional sebagai wartawati di Tabloid Bangkit yang berada di bawah kelompok Kompas Gramedia.
Setelah itu, ia berkiprah di industri media dan sempat menjabat sebagai CEO Kresna Media serta memimpin Kelompok Media Peluang dan Majalah Prospektif. Di bidang politik, namanya dikenal luas ketika menjadi Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional Koalisi Adil Makmur pada Pilpres 2019.
Kariernya di pemerintahan terus berkembang melalui sejumlah posisi strategis, mulai dari Wakil I Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan, Komisaris Independen PT Pertamina, hingga Wakil Kepala BGN sebelum akhirnya dipercaya memimpin lembaga tersebut pada Juni 2026.